Di tengah masyarakat, kata “hemat” seringkali memiliki konotasi yang kurang menyenangkan. Orang sering menyamakannya dengan kata “pelit” atau “kikir”. Akibatnya, kita mungkin ragu untuk menolak ajakan makan di luar yang mahal karena takut mendapat cap tidak asyik. Stigma negatif ini seringkali menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk mengelola keuangan dengan lebih baik.
Padahal, ada perbedaan yang sangat besar dan mendasar antara menjadi seorang yang hemat secara cerdas (frugal) dengan menjadi seorang yang kikir (pelit). Jika rasa kekurangan mendasari kekikiran, maka rasa berkelimpahan justru mendasari frugalitas. Ini bukan tentang penderitaan, melainkan tentang pilihan yang Anda sengaja buat. Oleh karena itu, panduan ini akan membantu Anda memahami perbedaannya dan merangkul gaya hidup frugal yang membahagiakan.
Perbedaan Mendasar dalam Pola Pikir
Perbedaan utama antara keduanya terletak pada fokusnya.
Orang Pelit Fokus pada “Harga”
Pola pikir orang pelit selalu tertuju pada satu hal: mengeluarkan uang sesedikit mungkin. Ia mendasarkan keputusan pembeliannya murni pada label harga terendah saat ini, seringkali tanpa mempertimbangkan kualitas atau biaya jangka panjang. Rasa cemas dan fokus pada pengorbanan mendorong strategi ini.
Orang Frugal Fokus pada “Nilai” (Value)
Sebaliknya, seorang frugalis cerdas fokus pada mendapatkan nilai (value) terbaik dari setiap rupiah yang mereka keluarkan. Mereka bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk sebuah barang jika kualitasnya jauh lebih baik. Sebab, mereka tahu itu lebih hemat dalam jangka panjang. Tujuan dan fokus pada optimalisasi mendorong strategi ini.
Studi Kasus: Frugal vs. Pelit dalam Kehidupan Sehari-hari
Mari kita lihat bagaimana kedua pola pikir ini bermanifestasi dalam situasi nyata.
Ketika Makan
- Si Pelit: Mungkin akan memilih makan mi instan setiap hari karena itu yang termurah atau makan dengan porsi sangat sedikit untuk berhemat.
- Si Frugal: Dia akan melakukan meal prep di akhir pekan, memasak makanan bergizi dari bahan-bahan yang dibeli saat diskon. Saat diajak makan di luar, ia akan mengusulkan tempat yang enak dengan harga terjangkau.
Saat Belanja Pakaian
- Si Pelit: Biasanya, ia akan membeli kemeja seharga Rp 50.000 yang kualitasnya buruk dan kemungkinan besar akan rusak setelah beberapa kali cuci.
- Si Frugal: Sebaliknya, ia akan sabar menunggu musim diskon untuk membeli satu kemeja berkualitas seharga Rp 150.000 (dari harga normal Rp 300.000) yang akan bertahan selama bertahun-tahun.
Ketika Bersosialisasi
- Si Pelit: Selalu menghindar saat giliran membayar, tidak pernah mau ikut patungan untuk hadiah teman, dan seringkali mengisolasi diri.
- Si Frugal: Justru, ia akan proaktif mengusulkan ide kumpul-kumpul yang hemat, seperti piknik di taman atau masak bersama di rumah (potluck). Ia juga memiliki anggaran khusus untuk hiburan.
Saat Merawat Rumah
- Si Pelit: Ia cenderung mengabaikan keran yang sedikit menetes atau retakan kecil di dinding untuk menghindari biaya perbaikan “sekarang”.
- Si Frugal: Dia akan segera memperbaiki keran yang menetes (karena tahu itu membuang-buang uang) dan melakukan perawatan preventif rutin untuk menghindari biaya perbaikan yang jauh lebih besar nanti.
Langkah Praktis untuk Memulai Gaya Hidup Frugal yang Cerdas
Menjadi frugal adalah sebuah keterampilan yang bisa Anda pelajari. Berikut beberapa langkah untuk memulainya:
- Tentukan “Mengapa”-nya Anda: Hemat demi hemat akan terasa menyiksa. Anda harus punya tujuan, misalnya menabung untuk DP rumah atau dana pendidikan. Tujuan yang jelas akan memberikan makna pada setiap keputusan hemat Anda.
- Otomatiskan Tabungan Anda: Terapkan prinsip “Bayar Diri Sendiri Dahulu”. Begitu menerima gaji, langsung transfer sejumlah dana ke rekening tabungan Anda. Jangan menunggu sisa di akhir bulan.
- Terapkan Aturan “Tunggu 72 Jam”: Untuk setiap pembelian non-esensial di atas nominal tertentu, paksakan diri Anda untuk menundanya selama 3 hari. Seringkali, setelah 3 hari, keinginan untuk membeli barang tersebut sudah hilang.
- Fokus pada “Kemenangan Besar”: Jangan terlalu stres memikirkan hal-hal kecil. Sebaiknya, fokuskan energi Anda untuk menekan 3 pos pengeluaran terbesar Anda, yang biasanya adalah tempat tinggal, transportasi, dan makanan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, menjadi frugal adalah tentang mengambil kembali kendali atas uang Anda dan mengarahkannya pada hal-hal yang benar-benar penting. Sebab, ini tentang memilih untuk membelanjakan lebih sedikit pada hal-hal yang kurang Anda hargai, agar Anda bisa membelanjakan lebih banyak pada hal-hal yang memberikan Anda kebahagiaan sejati.
Maka dari itu, hapus stigma negatif dari kata “hemat”. Dengan menjadi seorang “frugalis” yang cerdas, Anda tidak sedang menyiksa diri. Sebaliknya, Anda sedang merancang sebuah kehidupan yang lebih kaya, lebih bermakna, dan bebas dari stres keuangan. Tentu saja, itu adalah sebuah kemewahan yang tidak ternilai.






