Musim hujan seringkali disambut dengan suka cita. Udara menjadi lebih sejuk, debu-debu jalanan tersapu bersih, dan suasana terasa lebih segar. Bagi para pemilik tanaman, hujan identik dengan “air gratis” dari langit. Namun, di balik berkah tersebut, musim hujan juga membawa serangkaian tantangan unik yang bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan tanaman hias kita, terutama yang berada di dalam pot.
Kombinasi antara air yang melimpah, kurangnya sinar matahari, dan kelembapan udara yang sangat tinggi adalah kondisi ideal bagi dua musuh terbesar tanaman yaitu busuk akar (root rot) dan penyakit jamur. Jangan sampai tanaman yang sudah Anda rawat dengan baik selama musim kemarau justru layu saat musim hujan. Dengan sedikit adaptasi dan langkah-langkah pencegahan, Anda bisa membantu koleksi hijau Anda tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap tumbuh sehat. Berikut adalah 7 tips krusialnya.
1. Audit Lokasi Penempatan Pot
Langkah pertama adalah meninjau kembali di mana Anda meletakkan pot-pot Anda. Tidak semua tanaman menyukai “mandi” hujan setiap hari.
Pindahkan Tanaman yang Rentan
Tanaman yang secara alami tidak menyukai banyak air, seperti sukulen, kaktus, dan lidah mertua (sansevieria), harus segera Anda selamatkan. Pindahkan mereka ke area yang terlindung dari hujan langsung, misalnya di teras yang beratap, di bawah kanopi, atau bahkan untuk sementara waktu dimasukkan ke dalam rumah di dekat jendela yang terang.
Hindari “Air Terjun” dari Atap
Untuk pot-pot yang tetap berada di luar, pastikan mereka tidak diletakkan tepat di bawah jalur jatuhnya air dari atap atau talang air. Gempuran air yang sangat deras secara terus-menerus bisa memadatkan media tanam dan merusak akar tanaman.
2. Periksa Drainase Pot, Wajib Hukumnya!
Di musim hujan, drainase yang baik adalah pertahanan nomor satu melawan busuk akar. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan inspeksi.
Pastikan setiap pot Anda memiliki lubang drainase yang cukup di bagian bawahnya. Setelah hujan, perhatikan pot Anda. Apakah airnya bisa mengalir keluar dengan lancar, atau malah tergenang di permukaan? Selain itu, kosongkan semua air yang mungkin tertampung di tatakan pot. Untuk sirkulasi yang lebih baik, Anda bisa mengganjal pot dengan beberapa batu kecil atau “kaki pot” (pot feet) agar bagian bawahnya sedikit terangkat dari lantai.
3. Sesuaikan Frekuensi Menyiram (Stop Siram Otomatis!)
Ini adalah kesalahan paling umum. Banyak orang tetap menyiram tanamannya dengan jadwal rutin musim kemarau, padahal tanaman tersebut sudah mendapatkan cukup air dari hujan dan proses penguapan pun melambat.
Gunakan kembali “tes jari” sebagai panduan utama Anda. Selalu periksa kelembapan media tanam sebelum Anda berpikir untuk menyiram. Untuk tanaman di luar ruangan yang terkena hujan, kemungkinan besar Anda tidak perlu menyiramnya sama sekali selama musim hujan. Untuk tanaman di dalam ruangan, Anda akan menyadari bahwa jeda waktu penyiraman akan menjadi jauh lebih lama dari biasanya.
4. Tingkatkan Sirkulasi Udara di Sekitar Tanaman
Kombinasi antara media tanam yang basah dan udara yang lembap tanpa pergerakan adalah undangan terbuka bagi penyakit jamur untuk berpesta. Sirkulasi udara yang baik akan membantu mengeringkan daun dan permukaan tanah lebih cepat.
Caranya, berikan jarak yang cukup antar pot. Jangan meletakkan tanaman terlalu berdempetan. Untuk koleksi di dalam ruangan, sesekali Anda bisa menyalakan kipas angin dengan kecepatan rendah selama beberapa jam untuk membantu udara bergerak. Anda juga bisa memangkas beberapa daun di bagian tengah tanaman yang terlalu rimbun untuk “membuka jalan” bagi angin.
5. Waspada Terhadap Hama dan Penyakit
Musim hujan bukan hanya musimnya tanaman tumbuh subur, tetapi juga musimnya hama dan penyakit. Kelembapan tinggi sangat disukai oleh siput dan bekicot. Selain itu, bercak-bercak hitam atau lapisan putih seperti tepung pada daun (jamur) juga lebih sering muncul.
Lakukan inspeksi pada tanaman Anda lebih sering, terutama di bagian bawah daun. Taburkan remukan cangkang telur di sekeliling pangkal tanaman untuk menghalau siput. Selalu siapkan semprotan pestisida atau fungisida alami (seperti larutan minyak nimba/neem oil) agar Anda bisa bertindak cepat saat melihat gejala pertama.
6. Tunda Dulu Pemberian Pupuk Berat
Saat musim hujan, intensitas cahaya matahari seringkali berkurang drastis. Akibatnya, laju fotosintesis dan pertumbuhan tanaman pun melambat. Memberikan pupuk dosis penuh pada saat ini sama saja seperti memaksa tanaman untuk “makan besar” saat ia sedang tidak nafsu makan.
Sebaiknya, kurangi frekuensi pemupukan Anda menjadi setengahnya, atau hentikan sama sekali untuk sementara waktu, terutama untuk tanaman hias daun. Anda bisa melanjutkannya kembali saat hari-hari cerah mulai sering muncul.
7. Lakukan Pemangkasan (Pruning) Ringan
Pemangkasan ringan selama musim hujan sangat bermanfaat. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah daun yang terlalu rimbun, yang bisa memerangkap kelembapan dan menghalangi sirkulasi udara.
Gunakan gunting stek yang bersih untuk memotong daun-daun yang sudah tua atau menguning, serta cabang atau ranting yang tumbuh ke arah dalam atau bersilangan. Ini akan membantu tanaman lebih cepat kering setelah terkena hujan dan memfokuskan energinya pada pertumbuhan batang yang lebih kuat.
Kesimpulan
Musim hujan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti oleh para pemilik tanaman. Ia hanya menuntut kita untuk sedikit mengubah cara kita merawat. Pola pikirnya bergeser: dari yang tadinya aktif “memberi air”, menjadi aktif “mengelola kelebihan air”.
Dengan menjadi perawat yang lebih jeli, proaktif, dan adaptif, Anda dapat dengan mudah membantu koleksi tanaman Anda melewati musim hujan dengan sukses. Anggap saja ini sebagai waktu bagi mereka untuk minum sepuasnya, dan tugas kita adalah memastikan mereka tidak “kembung”. Selamat menikmati musim hujan yang hijau dan subur!






